Yamaha

Sekolah Tatap Muka Diprotes, Ini Catatan Warga Sekolah Kena Covid-19

  Senin, 10 Agustus 2020   Icheiko Ramadhanty
Mendikbud Nadiem Makarim. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

JAKARTA, AYOBOGOR.COM -- Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo menyampaikan kebijakan baru terkait pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Dia mengatakan sekolah yang berada di wilayah zona kuning dan zona hijau dapat melangsungkan pembelajaran tatap muka.

Hal demikian juga disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Dalam kesempatan yang sama, Nadiem membeberkan bahwa ada sekitar 43% dari peserta didik yang berada dalam dua zona aman itu.

“Untuk itu, kita akan merevisi Surat Keterangan Bebas (SKB) untuk memperbolehkan pembelajaran tatap muka dengan mengikuti protokol kesehatan. Semua data mengenai zonasi kuning dan hijau itu berdasarkan data Satgas Covid-19,” kata Nadiem dalam telekonferensinya di akun YouTube Kemendikbud, Jumát (7/8/2020).

“Yang menentukan semuanya itu dari Satgas, bukan di Kemendikbud. Tapi kita merujuk pada standar kesehatan dan monitoring program Covid-19 yang ada di Satgas,” tambahnya.

Sedangkan, kata Nadiem, untuk sekolah-sekolah yang berada di zona merah dan oranye, masih dilarang untuk melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan. Nadiem menggarisbawahi kendati zona hijau dan kuning diperbolehkan, bukan berarti hal itu adalah sebuah mandat.

“Bukan dimandatkan. Bukan dipaksakan. Kalau berkenan untuk melakukan pembelajaran tatap muka tentunya dengan protokol kesehatan,” ujar Nadiem.

Kebijakan tersebut menuai kekhawatiran dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). FGSI khawatir kebijakan pembukaan sekolah untuk zona hijau dan kuning dapat memunculkan risiko klaster baru di sekolah-sekolah.

“Ini merupakan potret kebijakan pendidikan yang paradoks. Di satu sisi angka statistik penyebaran covid-19 di Indonesia makin tinggi, tetapi di sisi lain kebijakan pendidikan membuka sekolah makin longgar,” kata FSGI dalam keterangan resminya, Senin (10/08/2020).

Berdasarkan data dari FSGI, mereka mencatat jumlah siswa dan guru yang positif Covid-19 terus meningkat. Hal itu terjadi baik dalam lingkup sekolah maupun pesantren. Adapun, data yang dihimpun hingga 10 Agustus adalah sebagai berikut:

1. 28 guru dari 2 sekolah di Kota Balikpapan positif covid-19 (terbaru)
2. 35 santri dari pesantren di Kab. Pati positif covid-19 (terbaru)
3. 4 guru di Kota Surabaya, Jawa Timur
4. 2 siswa di Kab. Sumedang, Jawa Barat
5. 2 siswa di Kab. Sambas, Kalimantan Barat
6. 2 guru di Kota Pariaman, Sumatera Barat
7. 1 siswa di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat
8. 1 siswa di Kab. Tegal, Jawa Tengah
9. 1 siswa di Kota Tegal, Jawa Tengah,
10. 1 guru di Kota Solo, Jawa Tengah
11. 1 guru meninggal positif covid-19 di Kab. Madiun, Jawa Timur
12. 1 guru di Kota Madiun, Jawa Timur
13. 50 santri di Ponpes Gontor 2 Kab. Ponorogo, Jawa Timur
14. 5 pengajar (ustaz) di Ponpes Kota Tangerang, Banten
15. 1 pengajar (ustaz) dan 6 santri di Kab. Wonogiri, Jawa Tengah
16. 3 santri di Ponpes Kab. Pandeglang, Banten
17. 43 santri di Ponpes Temboro Kab. Magetan, Jawa Timur


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar