Yamaha

Tradisi Cucurak Saat Masa Jaga Jarak

  Rabu, 29 April 2020   Administrator
Nasi liwet yang disajikan di atas daun pisang. (Cookpad.com)

Hamparan daun pisang menghijaui teras rumah kediaman seorang warga di kawasan Gunung Putri, Bogor. Orang-orang yang hadir bahu-membahu menyiapkan hidangan khas Sunda untuk disantap bersama. 

Semerbak harum nasi liwet menyeruak saat diletakkan di atas daun pisang yang tergelar bak permadani. Dihiasi dengan lalapan, sambal dan lauk-pauk lainnya menggugah selera orang-orang yang hadir dalam sebuah agenda tradisi yang dinamakan Cucurak. 

Bayangan akan tradisi ini terekam jelas dalam memori karena rutin dilaksanakan setiap tahun menjelang Ramadhan. Sayangnya, tahun ini tradisi berkumpul semacam Cucurak harus ditunda lantaran pembatasan sosial. 

Setiap daerah di Indonesia mempunyai cara unik tersendiri dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Di antaranya Aceh dengan tradisi Meugang, Semarang dengan Dugderan, Boyolali dengan Padusan dan masih banyak lagi. Cucurak sendiri merupakan tradisi masyarakat Bumi Pajajaran atau yang akrab di telinga masyarakat dengan sebutan Bogor. 

Cucurak ialah tradisi yang biasa dilakukan dengan cara makan bersama sebelum Ramadhan dalam rangka menyambut bulan suci dengan suka cita. Secara bahasa, cucurak sendiri memiliki arti bersuka cita atau bersenang-senang. Dalam agenda Cucurak, biasanya orang-orang berkumpul untuk mempererat tali silaturahmi dan bersama keluarga, tetangga, teman sekolah, rekan kerja dan lainnya. 

Selain Cucurak, Bogor juga punya tradisi unik lainnya yakni Ngubek Setu. Tradisi ini pelaksanaanya ialah dengan partisipasi warga yang berbondong-bodong memanen ikan di setu dalam rangka yang sama, yakni menyambut datangnya bulan Ramadhan. Namun, tradisi ini masih kalah populer dengan Cucurak yang hampir sebagian besar masyarakat Bogor pernah berpartisipasi.

Kini Berbeda
Hardiani Ikka adalah seorang mahasiswa Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) asal Bogor yang tiap tahunnya melaksanakan Cucurak. Kegiatan berkumpul dan makan bersama rekan-rekan semasa sekolah merupakan agenda wajibnya sebelum memasuki bulan Ramadhan. Jauh sebelum adanya larangan berkumpul dalam rangka mewujudkan pembatasan sosial yang kini tengah digalakkan, ia dengan rekan-rekannya sudah berencana akan melaksanakan Cucurak. 

“Sudah ada rencana mau Cucurak sama teman-teman SMA.  Harusnya lima hari sebelum puasa tahun ini, tapi karena kondisinya seperti ini (adanya pandemi Covid-19) rasanya gak memungkinkan,” jelasnya. 

Imbauan pemerintah terkait pembatasan sosial membuat banyak masyarakat enggan keluar rumah apalagi untuk mengikuti kegiatan berkumpul semacam Cucurak. Hardiani mengeluhkan perihal tradisi Cucurak yang tidak dapat dilaksanakan pada tahun ini. Tradisi yang biasa dijadikan sebagai ajang reuni dengan teman lama semasa sekolah ini rasanya sayang untuk dilewatkan.

Hal yang sama juga dirasakan oleh mahasiswa Universitas Nasional yang merupakan warga asli Bogor Sherina Nuryana, ia mengungkapkan bahwa ketakutan masyarakat akan penyebaran Covid-19 membuat kegiatan-kegiatan yang umumnya dilakukan secara normal kini banyak yang ditunda bahkan ditiadakan. “Aneh rasanya, biasanya sebelum masuk bulan puasa ada Cucurak dulu. Kumpul dan makan bareng bareng teman-teman, jadi kesempatan bagus untuk bersilaturahmi,” pungkasnya.

Ia juga merasa bahwa Ramadhan kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tidak hanya perihal Cucurak yang ditunda, agenda buka bersama yang umum dilakukan oleh semua orang pun kini sulit dilaksanakan. Banyak tempat makan di sejumlah wilayah Bogor tutup atau melarang pelanggannya berkumpul ramai dalam satu meja. Bahkan, sholat tawarih berjamaah yang biasa diselenggarakan masjid-masjid di setiap daerah kini ditiadakan atau sekalipun ada jemaahnya dibatasi. 

Jaga Jarak
Lain hal dengan seniman Sunda di Bogor yang tetap menggelar Cucurak di halaman Kantor Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor pada 23 April 2020 lalu. Para seniman yang tergabung dalam kelompok bernama Sunda Sejati ini tetap menjadikan momen Cucurak sebagai agenda penyambung silaturahmi antar anggota kelompok seniman Sunda tersebut. 

Uniknya, orang-orang yang berpartisipasi pada kegiatan Cucurak ini makan bersama tetapi saling berjauhan, dengan batas jarak minimal satu meter. Umumnya, makanan pada momen makan bersama saat Cucurak disajikan dalam helaian daun pisang yang dihamparkan. 

Para orang yang berpartisipasi lalu makan bersama dengan mengerumuni daun pisang tersebut. 

Keunikan dari gaya Cucurak yang digelar seniman Sunda ini oleh imbauan pemerintah untuk melakukan pembatasan sosial dan pembatasan fisik guna menekan tingginya angka penyebaran Covid-19. Apalagi mengetahui fakta bahwa Gunung Putri, yang menjadi tempat dilaksanakannya Cucurak oleh seniman Sunda ini merupakan salah satu kawasan rawan terpapar Covid-19.

Gunung Putri sendiri masuk ke dalam salah satu daerah dengan kategori zona merah Covid-19 di Kabupaten Bogor. Bupati Bogor pada Jumat, 24 April 2020 lalu mengumumkan melalui keterangan tertulisnya bahwa Gunung Putri menjadi kawasan dengan jumlah pasien positif Covid-19 terbanyak di Kabupaten Bogor. Dengan jumlah 23 pasien positif Covid-19 dan pasien dalam pemantauan (PDP) sebanyak 23 orang. 

Oleh karena itu, menjaga jarak menjadi cara efektif agar tidak memperpanjang rantai penyebaran virus yang saat ini paling marak dibicarakan masyarakat seluruh dunia. Menyambut bulan suci Ramadhan tidak melulu harus mengikuti tradisi. Tradisi Cucurak ala masyarakat Bogor ini pelaksanaanya dapat ditunda seperti yang dilakukan Hardiani dan Sherina. 

Selain itu juga dapat diakali dengan cara yang unik dengan berjauh-jauhan seperti yang dilakukan Sunda Sejati, komunitas seniman Sunda di Gunung Putri. Bahkan dapat dilakukan dengan di rumah saja bersama keluarga kecil. Sebab pada dasarnya, poin terpenting dari adanya tradisi Cucurak ini adalah bagaimana kita menyambut bulan suci Ramadhan dengan suka cita.

Alfida Febrianna
Mahasiswa Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar