Yamaha

Ditutup Karena Corona, Industri Bioskop Tak Berpenghasilan

  Selasa, 07 April 2020   Husnul Khatimah
ilustrasi -- potret salah satu sudut ruangan bioskop. (Ayobogor.com/Husnul Khatimah)

CIBINONG, AYOBOGOR.COM -- Pandemi Covid-19 memaksa orang untuk tidak berkerumun memberikan dampak terhadap dunia industri termasuk industri bioskop yang biasanya meraup penghasilan dari tiket film.

Salah satu jaringan bioskop ternama di Indonesia yakni CGV bahkan tak mempunyai pendapatan karena bioskop yang terpaksa demi mencegah penyebaran corona seperti anjuran dari pemerintah.

Direktur CGV Indonesia Dian Sunardi Munaf mengatakan, pihaknya belum bisa menyampaikan berapa kerugian yang didapat selama masa sulit. Namun dipastikan pemasukan tidak ada.

"Kami belum bisa sampaikan intormasinya (nilai kerugian) karena masih dalam perhitungan. Yang pasti selama masa penutupan Ini tidak ada revenue, yang biasanya kami dapat dari penjualan tiket, pembelian makanan, minuman, merchandise, pemasangan iklan, promosi produk dan lain-lain," ujar Dian, Selasa (7/4/2020).

Dia menambahkan, saat Ini pihaknya fokus untuk menyusun strategi menstabilkan bisnis perusahaan.

"Salah satunya dimulai dengan menurunkan sebisa mungkin beban biaya usaha. Terdiri dari beban biaya karyawan, beban pajak dengan segala variasinya, beban biaya pemeliharaan dan lainnnya," ungkap Dian.

Meski bisnis sedang lesu, namun Dian mengungkapkan bahwa pihaknya akan berusaha untuk terus memenuhi semua hak karyawan CGV.

Selama masa penutupan ini karyawan diminta off-duty dan menganjurkan kepada mereka untuk mengambi cuti.

"Sampai 7 April 2020 tidak ada PHK karyawan akibat penutupan sementara Ini. Kesejahteraan karyawan CGV juga merupakan prioritas saat ini dan kami akan terus mensupport mereka semampu kami," kata Dian.

Dia berharap pemerintah bisa segera menyelesaikan masalah Covid-19 di Indonesia dengan cepat dan menyeluruh agar perkenomonian Indonesia bisa kembali bergairah.

"Harapan untuk kami sebagai pengusaha bioskop di masa masa sulit ini, pemerintah membantu beban pengusaha melalui berbagai kebijakan fiskal yang diarahkan untuk menekan beban perusahaan," katanya.

Pihaknya juga mendorong pemerintah untuk membebaskan biaya ataupun menangguhkan berbagai beban biaya seperti pajak bioskop. Memasukkan industri bioskop ke dalam klasifikais lapangan usaha yang mendapatkan fasilitas pembebasan Pph 21 yang ditanggung pemerintah.

"Kami juga mengharapkan dalam situasi seperti ini untuk dapat diberikan insentif finansial semisal pengurangan pajak tontonan film di beberapa daerah menjadi maksimum 10% untuk menciptakan kesetaraan antar daerah," katanya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar