Yamaha

Mencicipi Mie Janda yang Bikin Ketagihan

  Sabtu, 07 Maret 2020   Adi Ginanjar Maulana
Kedai Mie Janda

Bermula pertemuan empat pemuda di teras musala. Tercetuslah kedai penganan yang unik dan menarik. Unik dari pilihan nama yang nyentrik dan mengundang kepenasaran. Menarik karena tersaji beragam rasa namun tetap nikmat dan bermanfaat. Ya, Mie Janda di Cibinong, Kabupaten Bogor jadi target para mania kuliner untuk mencicipi penganan yang istimewa.

Alhasil, seiring perjalanan waktu, dari mulai berdagang menggunakan tenda di pekarangan pertokoan di Jalan Mayor Oking Cibinong, kini sudah memiliki empat cabang dan bersiap mengembangkan usaha dengan memberdayakan para (calon) usahawan. Pantas pula dengan modal mini kini Mie Janda meraup keuntungan maksi. Modal awal Mie Janda pada tahun 2008 tidak lebih dari 25.000.000. Kini, dengan empat kedai dan 30 karyawan, bisa mendapat penghasil di atasa 250.000.000 dalam setiap bulannya.   

Lantas apa saja yang membedakan Mie Janda dengan kedai penganan dengan bahan dasar mie lainnya? Apa keunggulan Mie Janda sampai digandrungi banyak orang? Bagaimana strategi bertahan Mie Janda di tengah persaingan niaga yang makin kompetitif.

Satu, Mie Janda lahir dari keberanian dan kreativitas empat pemuda yang tak sengaja kerap bertemu di salah satu musolah di Kelurahan Ciriung, Kecamatan Cibinong, tak jauh ari Perumahan Ciriung Cemerlang.

Cucu Haris, Ahmadun, Syaiful Amal, dan Suwito adalah pemuda yang bekerja di tempat yang berbeda. Keempatnya jenuh dengan rutinitas menjadi anak buah dengan miskin gagasan alias tergantung perintah atasan. Tukar pikiran selepas Zuhur, Asar, atau bada Isya. Mereka diskusi. Lalu sepakat mendirikan usaha mie.

Kreativitas empat pemuda yang berasal dari Jawa dan Sunda itu ditunjukkan dengan gagasan-gagasan dari mulai pilih nama, cara bertahan, hingga sajian penganan yang selalu baru untuk disajikan bagi publik kuliner tanah air.

Kedua nama “Janda” yang sungguh menggoda. Pilihan “Janda” sejatinya sempat ditentang oleh sebagian warga dan pelanggan. Bahkan, tidak sedikit yang meninggikan nada emosi agar nama “Janda” tidak disematkan sebagai merk dagang.

“Iya, Kang, sempat jadi polemik pilihan nama “Janda” itu. Sebagian warga cenderung kurang sreg. Sampai ada yang datang langsung dan protes. Namun, setelah diskusi dengan para pinisepuh dan alim ulama Cibinong, nama “Janda” tetap kami pertahankan. Sebab, ketika nama “Janda” dikonotasikan selalu negatif, berarti alam pikiran mereka memang sedang negatif. Pun sebaliknya.  Hal yang membuat kami  tambah kuat, para pengguna internet di media sosial justru suka dangan pilihan nama yang kami apungkan,” Kata salah satu pendiri Mie Janda, Syaeful Amal ketika saya temui di kedai utama Mie Janda di Jl. Mayor Oking Jayaatmaja, Cibinong Bogor.

Nama Janda itu sendiri karena pendiri dan karyawannya sebagian besar dari Jawa dan Sunda. Selain merujuk pada suku bangsa, nama “Janda” itu merupakan singkatan dari Jajanan Tenda.

“Ya, awalnya Mie Janda, berjualan di halaman depan salah satu pertokoan dekat PT Ganada. Masih di Jalan Mayor Oking Jayaatmaja. Dulu belum bisa menyewa ruko. Untuk menghindari panas dan hujan, maka kami menggunakan tenda. Ya, disingkatlah jadi Jajanan Tenda,” beber Syaeful Amal, mantan karyawan pabrik helm di kawasan Jalan Lambau, Karangasem Barat, Citeureup.

Ketiga, bahan yang digunakan Mie Janda serba alami dan masih segar. Mie Janda mengusung misi mulia dan tidak sekadar mencari keuntungan saja. Kemulian itu salah satuya mewujud dalam pilihan bahan yang ramah lingkungan dan menyehatkan bagi pelanggan.

“Dalam masakan tidak satupun menggunakan mecin, vetsin atau bahan-bahan mengandung kimiawi yang cenderung membahayakan bagi kesehatan. Tidak. Semua bahan kami pilih dari alam. Warna hijau, warna oren atau merah dalam makanan itu bukan pewarna kimia, tetapi dibuat dari saripati buah naga, daun bayam, bit, dan buah-buahan atau dedaunan yang ramah lingkungan serta menyehatkan,” kata Syaeful yang sebelum mengelola usaha Mie Janda sempat kursus membuat mie di salah satu perusahaan produksi tepung ternama.

Keapikan Mie Janda dalam membuat masakan makin ciamik sejak bisa membuat mie mandiri alias tidak membeli mie jadi yang banyak di pasaran. Dengan demikian adonan bahan, racikan bumbu, tekstur mie, keaslian mie tetap terjaga.

“Ya, mie di sini berbeda dengan mie-mie lainnya. Rasanya itu beda banget. Kenyal-kenyal gurih. Tapi bersahabat dengan organ perut. Apalagi minuman jusnya. Emh, syuegerrrr. Asyik juga untuk makan bareng-bareng dengan kawan-kawan,” kata Handa warga Citeureup yang sudah tujuh tahun menjadi pelanggan setia Mie Janda.

“Ada yang unik Kang. Ada anak yang di rumahnya tidak pernah makan mie di rumahnya. Namun ketika diajak orang tuanya dan mencicipi Mie Janda, malah ketagihan. Ada juga pasien dari salah satu rumah sakit di Cibinong yang tidak mau makan sarapan dari rumah sakit, namun begitu makan mie janda malah bernafsu dan alhamdulillah, dengan izin Allah, selain buah kegigihan dokter, ditakdirkan sembuh dan keluarganya jadi pelanggan Mie Janda,” tandas Syaeful Amal yang mengatakan pula pada pertengahan Maret tahun ini Mie Janda ulang tahun kedua belas tahun serta hendak mengadakan promo khusus.

Keempat, Mie Janda rutin mengadakan kegiatan amal berupa kegiatan sosial untuk warga sekitar yang sangat membutuhkan. Kegiatan amal itu bukan semata menggugurkan kewajiban zakat atau infak penghasilan, namun lebih agar usaha mereka bisa bermanfaat dan berdaya guna untuk masarakat.

Bantuan dana, makanan, atau alat tulis untuk khusus anak yatim dan kaum janda di wilayah Kecamatan Cibinong dan sekitarnya. Agar lebih bermanfaat untuk masarakat, Mie Janda juga memberdayakan potensi lokal sebagai karyawan.

“Hampir seratus persen semua karyawan Mie Janda adalah warga Cibinong, Citeureup, dan Gunung Putri Kabupaten Bogor. Ini cara kami untuk mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia,” kata Amal yang rajin mengisi mimbar-mimbar pengajian di sekolah-sekolah.

Kelima, pilihan nama menu makanan yang nyentrik nan menggelitik. Nama adalah perwakilan citra diri. Berawal dari nama sebuah penganan jadi ciri yang mandiri. Pun demikian menu-menu di Mie Janda.

Mangga, kita tatap bersama: Janda Pedas (Mie Ayam Jamur Bumbu Pedas), Janda BT (Mie Ayam Jamur Baso Tahu), Es Duda (Es Madu dan Kelapa Muda), atau Es Jejaka (Es Jeruk jeung Kalapa).

Dengan pilihan nama-nama yang unik dan sesuai dengan bahan makanan atau minuman, tentunya tak sekadar unik tetapi mudah diingat para pelanggan. Bahkan tidak sedikit dikabar ulang ke sahabat-sahabatnya.

Itulah sekelumit cerita janda Cibinong, eh maaf, kisah sukses mie janda dari Cibinong yang selalu menggoda kita semua.  

Hari Senin-Minggu, jam 09-22.30 Mie Janda setia menanti Anda. Agan-agan hendak mencoba, tolong hati-hati........bisa-bisa malah ketagihan.** Djasepudin, guru (Honorer) SMA Negeri 1 Cibinong, Bogor


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar