Yamaha

Lahan Perkebunan Kurang, Pemkot Bogor Kembangkan Urban Farming

  Kamis, 27 Februari 2020   Republika.co.id
Ilustrasi urban farming. (wiselywoven/Pixabay)

BOGOR, AYOBOGOR.COM -- Lahan pertanian di Kota Bogor kian menyusut. Mensiasati kondisi tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengandeng Southeast Asian Regional Center For Tropical Biology (Seameo Biotrop) atau Organisasi Kementerian Pendidikan se-Asia Tenggara untuk menjalin kerja sama urban farming (pertanian perkotaan).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bogor dalam angka tahun 208, lahan sawah hanya 320,7 hektare dari total 11.850 hektare. Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto menjelaskan, kerja sama tersebut untuk memberdayakan masyarakat.

"Di Bogor lahan tidak luas. Tapi kalo bisa diberdayakan, dibantu untuk meningkatkan kapasitas urban farming ini sangat baik sekali," kata Bima, Kamis (27/2).

Sejak tahun 2018, Bima menjelaskan, pihaknya telah menjalin kerjasama dengan Seameo Biotrop. Sejumlah program telah dikolaborasikan di antaranya school garden, pemasaran online hingga perbaikan gizi untuk menekan angka stunting.

"Kemudian ada program pelatihan dan peserta didik yang fokus pada penyusunan karya ilmiah, ada pendampingan sekolah sehat," katanya.

Direktur Seameo Biotrop Irdika Mansur menjelaskan telah melakukan transformasi dari yang mulanya hanya lembaga penelitian yang hanya melakukan publikasi jurnal. Kini, kata dia, pihaknya telah mengembangkan hasil penelitian untuk diaplikasikan di sekolah dan masyarakat luas.

"Hasil-hasil penelitian tidak hanya menjadi bahan literatur bagi dunia pendidikan tinggi, tetapi hasil-hasil penelitian terapan Biotrop, dapat diaplikasikan secara sederhana oleh siswa SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) dan masyarakat umum," kata Irdika.

Dia menyebutkan SMK akan menjadi ujung tombak dalam pengembangan pertanian di Indonesia. Untuk itu edukasi pertanian lahan sempit diberikan kepada siswa dan guru-guru SMK.

"Biotrop telah membina lebih dari 100 SMK di Indonesia untuk mendukung program revitalisasi SMK dan ketahanan pangan yang bekerjasama dengan Direktorat Pembina-SMK (Kemendikbud)," jelasnya.

Hasilnya, sejumlah SMK yang telah bermitra telah mendapat keuntungan secara nyata. Bahkan, pertahunnya, sejumlah SMK telah memiliki omset mencapai Rp 2,2 miliar.

"SMK mitra tadi ini ada yang omsetnya pertahun Rp 100 juta, ada Rp 600 juta ada yang Rp 2,2 miliar ada yang Rp 1 miliar. Itulah yang ditransfer kepada sekolah," jelasnya.

Sesuai tujuan didirikannya, kata dia, Biotrop berupaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia untuk mengatasi masalah-masalah kritis biologi tropis. Bukan hanya di Indonesia melainkan di kawasan Asia Tenggara melalui pendidikan.

Khusus di Kota Bogor, Irdika menyatakan pihaknya akan memperkuat program school garden. Dia menyatakan, pihkanya juga akan terus mendukung dan membantu mengimplementasikan kebijakan Pemkot Bogor.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar