Yamaha

Pengamat Nilai Emil Masih Bisa Kalahkan Anies, Asalkan

  Senin, 24 Februari 2020   Republika.co.id
Ridwan Kamil. (ayobandung)

BANDUNG, AYOBOGOR.COM -- Meski Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menjadi kepala daerah kedua paling dikenal dengan persentase 65,8 persen, berdasarkan survei Indo Barometer, bukan tak mungkin tingkat popularitasnya terus menanjak hingga menuju posisi teratas pada tabel elektabilitas calon presiden 2024.

Pengamat hukum dan pemerintahan Universitas Padjadjaran (Unpad) Firman Manan menilai, tingkat popularitas adalah modal penting bila bicara mengenai pemilihan langsung. 

"Popularitas itu menjadi modal. Orang punya integritas, punya kompetensi kalau tidak populer yang kemungkinan kecil dipilih," ujar Firman, Minggu (23/2).

Namun, menurut Firman, yang terpenting adalah harus didukung oleh popularitas yang positif. Artinya, tidak memunculkan sentimen yang negatif dari isu-isu kontroversial. 

"Tidak ada sebetulnya hal-hal yang kontroversial dari Kang Emil (Ridwan Kamil). Kalau saya melihat memang sejauh ini, kang Emil kan lebih fokus untuk membereskan Jabar kan," paparnya.

Hal tersebut, kata dia, berbeda dengan isu yang menghinggapi Anies Baswedan. Meskipun dalam survei secara elektabilitas dan popularitas tertinggi, tapi sejauh ini kerap muncul isu-isu kontroversial dari Gubernur DKI tersebut. 

"Beda dengan kasus Jakarta misalkan degan Pak Anies seperti kasus banjir. Walaupun Jabar pun ada, tapi tidak yang semasif di DKI. Terlebih, kita tahu DKI magnet politiknya sangat kuat, jadi isu nasional itu bersentuhan betul," katanya.

Diketahui, elektabilitas Anies Baswedan di angka 31,7 persen sedangkan dalam tingkat pengenalan di angka 91,7 persen. Menurut Firman, bukan tak mungkin posisinya akan tersalip oleh kepala daerah lainnya bilamana yang muncul selalu isu kontroversial.  

AYO BACA : Survei Median: Elektabilitas Ridwan Kamil Kalah dari Anies Baswedan

"Bisa saja pak Anies Baswedan lebih populer dan elektabilitas-nya menjadi tinggi, tetapi kalau terlalu banyak isu kontroversial bukan tidak mungkin dari waktu ke waktu bisa menurunkan elektabilitas," katanya.

Terlebih, menurut Firman, ajang Pemilihan Presiden akan berlangsung pada 2024 nanti. Artinya, masih terlalu jauh bilamana berpatokan pada hasil survei yang terjadi saat ini. 

Karena waktunya masih panjang, kata dia, maka nama yang beredar saat ini belum tentu itu yang akan maju di 2024. "Nah politik Indonesia kan banyak kejutan, seringkali yang muncul tiba tiba orang yang tadinya tidak dibicarakan," katanya. 

Firman mengatakan, survei merupakan hasil dari opini publik. Sedangkan responden tersebut dipilih secara random, termasuk orang yang awam.

"Nah biasanya memang figur-figur yang terekspos oleh media itu yang kemudian masuk dalam radar orang-orang yang ditanya (responden) itu," katanya. 

Firman menilai, kalau melihat Ridwan Kamil, sejauh ini hanya lebih rendah dalam hal coverege dari media mainstream, khususnya mengenai isu nasional. Hal tersebut berbeda dengan kepala daerah lainnya, walaupun tak jarang isu pemberitaan mereka tak selamanya positif. 

Namun bilamana bicara media sosial, Ridwan Kamil boleh dibilang unggul dari gubernur lainnya, sebut saja Anies Baswedan, Khofifah Indar Parawansa, Ganjar Pranowo maupun Tri Rismaharini. Hal itu terukur dari jumlah pengikut pada media sosial Ridwan Kamil seperti akun instagram juga twitter. 

"Sudah lumayan kalau kita bicara konteks nasional di (capres) 2024, ya bagaimanapun kang Emil disebut-sebut sebagai salah satu kandidat," katanya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar