Wawancara Eksklusif: Bima Arya Bicara Soal Larangan Kantong Plastik
Oleh Husnul Khatimah, pada Jan 10, 2019 | 09:24 WIB
Wawancara Eksklusif: Bima Arya Bicara Soal Larangan Kantong Plastik
Wali Kota Bogor, Bima Arya, saat menerima kunjungan redaksi ayomedia network. (Husnul Khatimah/ayobogor)

BOGOR TENGAH, AYOBOGOR.COM -- Terhitung sejak 1 Desember 2018 Pemerintah Kota Bogor menerapkan kebijakan pengurangan penggunaan kantong plastik di pusat perbelanjaan dan toko modern. Hal itu tertuang dalam peraturan Wali Kota Nomor 61 Tahun 2018 tentang pengurangan penggunaan kantong plastik.

Kota Bogor bukanlah daerah yang pertama kali berinisiatif untuk melarang penggunaan kantong plastik, sebelumnya ada Banjarmasin, Balikpapan dan Badung (Bali) yang juga telah menerapkan hal serupa. Meskipun bukan menjadi yang pertama namun Kota Bogor menjadi sorotan soal larangan tersebut sebab letaknya yang berada tak jauh dari ibu kota.

Wali Kota Bogor, Bima Arya mengatakan kebijakan pelarangan kantong plastik bertujuan untuk mengurangi kantong plastik sebab kantong plastik adalah sampah yang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk diurai sehingga tidak baik untuk keselamatan lingkungan.

Menurut Bima dengan menerapkan kebijakan pelarangan kantong plastik itu juga memangkas total pembuangan sampah di Kota Bogor setiap harinya.

"Dari toko-toko modern itu sampah plastik 1,7 ton per harinya dan kalau yang kita hitung paling tidak itu memangkas 30 persen sampah plastik per harinya," ujar Bima dalam wawancara eksklusif bersama ayomedia network, Rabu (9/1/2018).

Bima menuturkan penerapan pelarangan penggunaan kantong plastik sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari bukan hanya dimulai pada 1 Desember. Langkah pertama yang dilakukan setelah Perda dirancang adalah melakukan sosialisasi kepada seluruh toko-toko modern di Kota Bogor dan masyarakat.

"Jadi ini perwali diterapkan per 1 Desember tapi bulan-bulan sebelumnya sosialisasi sudah dilakukan melalui segala hal, tatap muka, melalui media sosial, media mainstream dan lain sebagainya, intinya ini adalah sosialisasi," ucap Bima.

Ketika sosialisasi digencarkan menurut Bima toko-toko modern menunjukkan dukungannya, mereka menyatakan kesiapannya untuk mematuhi larangan penyediaan kantong plastik di tokonya masing-masing.

"Toko-toko juga siap karena mereka tidak mengeluarkan anggaran lagi untuk kantong plastik ada kas yang terpangkas. Dalam perjalanan ada beberapa toko yang 'lolos' (tidak mentaati Perda) satu atau dua toko tetapi setelah kita lakukan sidak mereka sekarang semuanya sudah menerapkan aturan diet kantong plastik," terang Bima.

Selain toko-toko modern, masyarakat kota Bogor menurut Bima juga dinilai mendukung kebijakan yang diterapkan pemerintah meskipun awalnya banyak muncul pertanyaan-pertanyaan akibat warga belum terbiasa tanpa kantong plastik.

Setelah berjalan cukup lama dan sejumlah upaya sosialisasi dilakukan warga akhirnya terbiasa tanpa kantong plastik. Hal itu menurut Bima karena kesadaran warga Bogor untuk mengelola sampah sangat tinggi demi keselamatan lingkungan hidup mereka.

"Warga juga sebetulnya senang karena kepedulian mereka terhadap pengelolaan sampah di Kota Bogor tinggi sekali. Waktu itu saya juga beruntung sekali pernah viral ikan paus yang makan plastik pas sekali momentumnya jadi warga juga tambah semakin sadar sekarang," tutur suami Yane Ardian tersebut.

Disinggung Kota Bogor adalah kota wisata Bima tidak kawatir dengan larangan kantong plastik akan membingungkan wisatawan saat berbelanja di toko-toko modern. Dia meyakini para pelancong pada akhirnya akan beradaptasi dengan kebijakan yang telah diambil itu.

"ama-lama terbiasa juga mereka dan kalau orang luar sebenarnya lebih ke cafe, ke restoran kalau belanja gak terlalu banyak juga, orang luar jarang ke minimarket, tapi gak masalah mereka pasti akan menyesuaikan," kata Bima.

Dalam kebijakan pelarangan kantong plastik kata Bima sebagai solusi pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk membawa kantong ramah lingkungan dari rumahnya masing-masing. Jika tidak mempunyai kantong plastik warga bisa mendapatkan di toko-toko modern dengan cara membeli.

Menurut Bima pemerintah kota tidak memfasilitasi penyediaan kantong ramah lingkungan sebab kebijakan pelarangan kantong plastik yang bertujuan untuk menjaga keselamatan lingkungan hidup adalah tugas bersama-sama yang bukan hanya pemerintah.

"Mana ada di seluruh dunia kantong ramah lingkungan disediakan pemerintah itu paradigma yang keliru. Diseluruh dunia dimana pun, ya warga itu menyediakan sendiri. Saya pernah sekolah di Australia dan pernah tinggal di Belanda sudah biasa mereka ketika belanja itu bawa sendiri kantong ramah lingkungan, ini paradigma yang salah dan keliru semua harus disiapkan pemerintah, semua warga harus berkontribusi untuk menyelamatkan lingkungan nya masing-masing," jelas Bima.

Ke depan menurutnya kebijakan pelarangan kantong plastik ini akan terus digalakkan dan diperluas hingga ke pasar tradisional agar dampak pengurangan sampah plastik semakin terasa.

"Saya targetkan kalau tahun ini berjalan dengan baik kita lanjutkan ke pasar tradisional justru lebih banyak disitu kalau di toko-toko modern bisa mengurangi 1,7 ton sampah tiap harinya tentu pasar tradisional akan lebih banyak lagi. Intinya dalam pelarangan kantong plastik ini ada dua aspek yaitu kesiapan toko-toko dan sosialisasi yang digencarkan," tukas Bima.

Editor : Andres Fatubun
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha NMax