Yamaha

27 Penderita Gangguan Jiwa Asal Tasikmalaya Dikirim ke RSMM Bogor

  Jumat, 13 Desember 2019   Republika.co.id
Rumah Sakit Marzoeki Mahdi (RSMM) Kota Bogor.

TASIKMALAYA, AYOBOGOR.COM -- Sebanyak 27 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) asal Kota Tasikmalaya diberangkatkan ke Rumah Sakit Marzoeki Mahdi (RSMM) Kota Bogor, Kamis (12/12) lalu. Para ODGJ itu akan mendapatkan perawatan medis agar dapat pulih dan kembali beraktivitas secara normal.

Promotor kesehatan jiwa RSMM, Iyep Yudiana mengatakan, pemberangkatan ODGJ untuk mendapatkan perawatan itu merupakan program kerja sama antara Kementerian Kesehatan melalui RSMM dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya. Tahun ini, sudah dua kali dilakukan pemberangkatan. Pertama, sebanyak 37 ODGJ dirawat dan telah kembali dipulangkan. Kali ini, 27 ODGJ akan menjalani perawatan di RSMM.

Sebelum memberangkatkan pasien, tim dari RSMM terlebih dahulu melakukan pemeriksaan kepada para ODGJ di Puskesmas Sambongpari, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya. "Kita terjunkan psikiater, dokter, perawat jiwa, dan lainnya. Kita jemput bola ke sini periksa langsung," kata dia, Kamis (12/12).

Dari sekian banyak pasien yang diperiksa, hanya 27 pasien yang dinyatakan siap untuk menjalani perawatan di RSMM. Para ODGJ itu dibawa menggunakan satu unit bus dan satu unit ambulans. Sementara sisanya harus menjalani perawatan fisik terlebih dahulu.

Iyep menjelaskan, para pasien itu nantinya akan menjalani perawatan selama 23 hari di RSMM. Perawatan tersebut akan dibagi ke dalam tiga fase. Pada fase pertama, pasien akan melakukan pengobatan akut melalui injeksi. "Dalam fase itu, targetnya pasien tidak lagi gelisah, menjadi kondusif, menjadi stabil," kata dia.

Dalam fase ke dua, pasien akan dirawan di ruang tenang dan melakukan terapi oral. Dalam tahapan itu, pasien akan dibiasakan untuk minum obat.

Terakhir, kata Iyep, adalah fase rehabilitasi. Pasien akan akan tetap meminum obat harian, sekaligus akan diberikan pembekalan kerja, sosial, aktivitas, dan lain-lain. Tujuannya agar pasien dapat kembali pulih secara medis, juga memiliki bekal lainnya, selesai menjalani perawatan di RSMM.

"Jadi pascarawat pasien secara fisik dan mental kembali pulih, secara sosial bisa normal, dan punya keterampilan. Namun itu mesti ditindaklanjuti di keluarga, panti, atau tempat lainnya, setelah pulang," kata dia.

Menurut Iyep, perawatan selama 23 hari secara umum cukup untuk pasien ODGJ dapat kembali ke masyarakat. Namun, kondisi pasien hanya pulih terkontrol atau belum 100 persen pulih. Dalam arti, mereka dapat melakukan aktivitas seperti orang normal, tapi juga harus tetap berobat jalan untuk kontrol.

Ia menjelaskan, ODGJ sebenarnya tak berbeda dengan penyakit lainnya. "Pasien bisa pulih terkontrol selama masih kontrol dan minun obat. Nanti obat yang diberikan juga dosisnya akan berkurang," kata dia.

Dalam proses pemulihan, ia mengatakan,  yang paling penting dukungan dari keluarga dan lingkungan. Stigma negatif terhadap ODGJ harus diubah. Ia menegaskan, saat ini bukan zamannya lagi menangani ODGJ dengan cara memasung, melainkan harus diobati secara medis.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Suryaningsih mengatakan, terdapat 57 ODGJ yang didaftarkan untuk dapat menjalani perawatan di RSMM. Namun, hanya 27 ODGJ yang lolos pemeriksaan. Sisanya harus menjalani pengobatan secara fisik terlebih dahulu sebelum dirawat ke RSMM.

Ia menyebutkan, pasien yang diberangkatkan adalah mereka yang mengalami gangguan jiwa berat atau yang pernah mengalami pemasungan. Pengobatan itu, kata dia, sams sekali tak meminta biaya dari keluarga pasien atau gratis. "Biaya perawatan sudah ditanggung RSMM melalui Kemenkes," kata dia.

Setelah dipulangkan dari RSMM, para ODGJ itu juga akan diberikan pelatihan di puskesmas masing-masing wilayahnya. Suryaningsih mengatakan, saat ini Pemkot Tasikmalaya memiliki program pemberdayaan pasien ODGJ di Puskesmas Kawalu dan Puskesmas Bungursari.

Ia mencontohkan, di Puskesmas Kawalu, para pasien ODGJ dilatih membuat telur asin dan produksinya sudah cukup tinggi. Sementara di Puskemas Bungursari pasien ODGJ dilatih membuat anyaman. Kendati demikian, baru terdapat dua puskesmas yang memiliki program pelatihan untuk pasien ODGJ, yang digarap dengan baik.

Ia mengatakan, Dinas Kesehatan akan terus mencari pasien ODGJ di Kota Tasikmalaya yang belum terdata atau belum pernah diobati. Menurut dia, berdasarkan data Dinas Kesehatan, hingga saat ini terdapat 700 ODGJ di Kota Tasikmalaya. Rata-rata dari mereka sudah mendapatkan pengobatan. Dari angka itu, beberapa sudah ada yang sembuh tapi juga ada pasien baru.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

Komentar