Yamaha

Tekan Polusi Udara, Bogor Fokus Aspek Transportasi

  Selasa, 29 Oktober 2019   Husnul Khatimah
Humanosphere Science School 2019 and International Symposium on Sustainable Humanosphere. (Husnul Khatimah/Ayobogor.com)

BOGOR TENGAH, AYOBOGOR.COM -- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Research Center for Sustainable Humanosphere (RISH), Universitas Kyoto, Jepang, menggelar Humanosphere Science School 2019 and International Symposium on Sustainable Humanosphere yang diselenggarakan 28-29 Oktober 2019.

Kegiatan ini merupakan wadah pertemuan ilmiah bagi para pakar, profesional, peneliti, dan akademisi dari berbagai bidang disiplin ilmu dalam upaya mencari solusi, memberikan ide pemecahan masalah komplek terkait keseimbangan alam semesta yang telah mengalami ketidakharmonisan.

Wali Kota Bogor, Bima Arya menjadi salah satu pembicara dan membahas soal upaya menekan polusi udara di Kota Bogor.

Bima mengatakan perubahan iklim yang disebabkan efek rumah kaca di Kota Bogor diakibatkan beberapa hal, diantaranya transportasi, industri dan yang lainnya. Kedepan, Pemerintah Kota Bogor akan fokus untuk menekan polusi pencemaran udara pada aspek transportasi.

“Kedepan transportasinya harus ramah lingkungan, mulai dari bahan bakarnya, mengurangi kendaraan pribadi dengan mendorong warga agar mau naik sepeda dan menambah serta meningkatkan gerakan-gerakan penghijauan, lubang biopori dan yang lainnya,” ujar Bima.

Bima mengaku Pemkot Bogor sejak beberapa tahun ke belakang sudah melakukan pengurangan polusi udara yang disebabkan transportasi, seperti menerapkan angkot ramah lingkungan dengan menggunakan bahan bakar gas pada beberapa angkot. 

"Ke depan bus pengganti angkot harus ramah lingkungan. Bisa menggunakan gas atau listrik," kata dia.

AYO BACA : Ini Kebiasaan-kebiasaan Buruk yang Timbulkan Pencemaran Udara

Kepada semua peserta simposium  Bima juga menjelaskan upaya Pemkot Bogor dalam menguatkan tiga identitas Kota Bogor sebagai Heritage City, Smart City dan Green City.

"Begitu banyak tantangan yang dihadapi Kota Bogor, mulai dari pertumbuhan populasi, transportasi hingga lingkungan hidup. Hal pertama yang saya coba implementasikan setelah dilantik adalah memperbaiki ruang terbuka publik, membangun dan renovasi taman, memperbaiki kualitas pedestrian, jogging track dan yang lainnya,” kata Bima.

Semua hal tersebut menurutnya ditujukan bukan hanya untuk mempercantik Kota Bogor atau meningkatkan kesehatan warga, namun juga meningkatkan Pendapatan Asli daerah Kota Bogor.

Sementara itu Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati mengatakan pertumbuhan populasi adalah salah satu tantangan multidimensi yang paling serius, kompleks, dan dilematis yang harus dihadapi oleh manusia di abad ini.

Dia menjelaskan, meningkatnya jumlah populasi berarti semakin banyak aktivitas manusia yang memicu pemanasan global yang mempengaruhi perubahan cuaca menjadi lebih ekstrem.

"Kegiatan-kegiatan manusia yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber energi dari bahan bakar fosil, penebangan hutan dan perubahan penggunaan lahan melepaskan lebih banyak emisi gas rumah kaca ke udara, terakumulasi di atmosfer dan akhirnya membuat bumi lebih panas,” kata Enny.

Enny menyebutkan, tidak ada negara yang dapat mengantisipasi tantangan ini sendirian. Hal ini karena terkait erat dengan aspek pendirian politik, rencana pembangunan, pilihan teknologi, kondisi sosial ekonomi dan perjanjian internasional.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

Komentar