Yamaha Mio S

Kabupaten Bogor Perbanyak Desa Lokus Intervensi Stunting

  Kamis, 22 Agustus 2019   Fira Nursyabani
Ilustrasi - Sejumlah petani memanen daun bawang di area pertanian Kertasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (18/7/2019). (ANTARA FOTO/Novrian Arbi)

CIBINONG, AYOBOGOR.COM -- Kepala Bappeda Litbang Kabupaten Bogor, Syarifah Sofiah, mengatakan pada tahun 2020 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor akan memperbanyak desa sebagai lokus intervensi stunting.

Saat ini Kabupaten Bogor telah memiliki 10 desa lokus intervensi stunting di delapan kecamatan. Menurutnya, Pemkab Bogor akan meningkatkan jumlahnya menjadi 40 desa yang tersebar di 14 kecamatan.

"Pada tahun 2020 akan ditambah menjadi 40 desa dari 14 kecamatan yang beririsan dengan tahun sebelumnya tiga kecamatan yaitu, Kecamatan Sukamakmur, Cibungbulang, Leuwiliang. Sedangkan lokasi kecamatan yang berubah di antaranya Kecamatan Leuwisadeng, Pamijahan, Tenjo, Jasinga dan Jonggol," ujarnya saat membuka Rapat Kerja Teknis Pemetaan Program, Kegiatan dan Sumber Pembiayaan untuk Mendorong Konvergensi Percepatan Pencegahan Stunting di Kabupaten Bogor, Rabu (21/8/2019).

Wanita yang akrab disapa Ipah itu menerangkan bahwa angka prevalensi stunting di Kabupaten Bogor tahun 2019 mencapai 39,2 persen. Angka tersebut ditargetkan menurun 20 persen di akhir periode RPJMD 2018-2023.

Maka, menurutnya dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2018 - 2023, penurunan prevalensi stunting menjadi salah satu indikator kinerja utama pemerintah daerah dari 31 indikator prioritas.

Di samping itu, anggaran yang disiapkan Pemkab Bogor dalam intervensi stunting tahun 2020 meningkat menjadi Rp154 Miliar, dari tahun 2019 senilai Rp136 miliar.

"Bogor sehat dengan sasaran meningkatnya kualitas kesehatan masyarakat, selain juga akan berpengaruh terhadap komponen pencapaian Indeks Pembangunan Manusia," kata Ipah.

Sementara itu, Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (TP2AK), Sekretariat Wakil Presiden, Saputra mengatakan pemahaman masyarakat akan stunting masih sangat minim. Oleh karena itu, untuk mempercepat pencegahan stunting diperlukan intervensi yang terkoordinir dan konvergen, yaitu sinergi lintas sektor dengan bersama-sama menyasar kelompok prioritas yang tinggal di desa dan perkotaan.

"Intervensi, seperti program makanan tambahan, air bersih, sanitasi, perilaku hidup bersih dan sehat, imunisasi, dan lain-lain, harus dilakukan secara menyeluruh dan konvergen mulai dari tahap perencanaan dan penganggaran, pelaksanaan, hingga pemantauan dan evaluasi," paparnya.

Rapat Kerja Teknis (Rakernis) yang digelar di Bogor ini, lanjut Saputra, adalah bagian dari upaya pemerintah melakukan pemetaan kegiatan dan sumber pembiayaan di seluruh OPD dan desa lokus stunting guna mendorong konvergensi percepatan pencegahan stunting di Kabupaten Bogor.

Stunting atau kekerdilan adalah masalah kurang gizi dan nutrisi kronis yang ditandai tinggi badan anak lebih pendek dari standar anak seusianya. Beberapa di antaranya mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal seperti lambat berbicara atau berjalan, hingga sering mengalami sakit.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

Komentar