Yamaha NMax

Lipkhas KPPS: Petugas Sibuk Sejak H-7 Pencoblosan

  Rabu, 15 Mei 2019   Husnul Khatimah
Grafis pemilu.(Attia)

BOGOR TENGAH, AYOBOGOR.COM--Pemilu 2019 menyisakan cerita tentang meningggalnya petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang mencapai ratusan orang. 

Gugurnya para pejuang demokrasi itu menimbulkan pendapat tentang penyebab kematian mereka di antaranya karena kelelahan dan karena riwayat penyakit terdahulu.

Terlepas dari apa penyebab meninggalnya ratusan petugas KPPS yang masih diperdebatkan namun banyak pihak yang menyetujui bahwa Pemilu 2019 adalah pemilu paling rumit sepanjang sejarah Indonesia karena diselenggarakan secara serentak yakni Pilpres dan Pileg sehingga membuat penyelenggara kewalahan.

Berbicara mengenai tanggung jawab penyelenggara Pemilu di tingkat KPPS Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bogor, Samsudin mengatakan mereka telah memiliki beban kerja yang berat jauh sebelum hari pencoblosan.

"Soal tanggung jawab atau pekerjaan, mereka sudah bekerja jauh-jauh hari, khususnya untuk logistik kami rasakan dari H-7 kami sudah sangat tinggi load (beban) nya," ujar Samsudin, Rabu (15/5/2019).

Samsudin mengatakan beban kerja yang sudah tinggi tujuh hari sebelum pencoblosan ini karena saat itu logistik pemilu sudah mulai didistribusikan dari tingkat kota hingga kelurahan.

"Karena logistik sudah mulai mengalir dari tingkat kota sampai ke tingkat kelurahan maka itu yang jadi perhatian bagi kami anggota KPU, PPK dan PPS yang pertama untuk membuat jumlahnya tepat, kedua tepat jenis jangan sampai ada yang salah masuk kotak dapil dan sebagainya," kata Samsudin.

Ketika tugas tersebut dijalankan menurut Samsudin membutuhkan konsentrasi yang tinggi dari para petugas dan memakan waktu yang lama.

"Puncaknya tanggal 17 April dan setelah tanggal 17 ternyata kita belum bisa beristirahat karena langsung ada rekap tingkat kecamatan, nah dengan kondisi itu belum ada rehat yang baik yang mungkin menyebabkan kelelahan dan banyak yang ambruk," katanya.

Dia mengatakan dengan beban kerja yang dimilikinya itu Ketua KPPS mendapat honor sebesar Rp.550.000, anggota KPPS Rp.500.000 dan anggota pengawas Rp.400.000 untuk satu orang disetiap kegiatan pemungutan suara.

Sibuknya tugas seorang KPPS juga dirasakan oleh Angga (24), anak dari Anwar Sofyan Harahap yang merupakan Ketua KPPS 75, Kelurahan Tegal Gundil, Kota Bogor yang meninggal usai melaksanakan tugas pemilu.

Angga melihat khususnya pada hari pencoblosan sang ayah berangkat sejak subuh hari untuk memulai tugasnya sebagai Ketua KPPS.

"Jadi kan pas hari rabu (hari pencobloasan) pemilu itu dia sudah persiapan, pokoknya dari subuh saya bangun udah gak ada, udah pergi dari rumah (menunaikan tugas pemungutan suara)," katanya.

Menurutnya kesibukan Anwar itu berbeda dengan kesibukan penyelenggaraan Pemilu tahun 2014 dimana mendiang sang ayah saat itu juga mengabdikan diri menjadi petugas KPPS.

"Dari tahun lalu, tahun 2014 sudah ikut cuma tahun lalu gak seharian, kan ini sehari ada lima jenis suara jadi sampai malam tugasnya, kalau dulu sampai sore sudah beres," kata Angga.


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar