Yamaha NMax

Ahli IPB: Tepung Ubi Kayu Cocok Dikonsumsi Penderita Diabetes-Obesitas

  Rabu, 15 Mei 2019   Fira Nursyabani
Pakar dan peneliti ubi kayu Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Nurul Khumaida. (ANTARA)

DRAMAGA, AYOBOGOR.COM -- Penderita penyakit diabetes (kencing manis) dan obesitas (kegemukan) bisa mengonsumsi tepung ubi kayu melalui tepung mocaf. Tepung ini hasil inovasi yang dilakukan ahli dan peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Nurul Khumaida.

"Salah satu kelebihan yang perlu diketahui masyarakat adalah bahwa tepung mocaf sesuai untuk pasien yang menderita diabetes dan obesitas karena kandungan glikemiksnya rendah serta bebas dari kandungan gluten," katanya melalui Humas IPB di Bogor, Selasa (14/5/2019).

Nurul Khumaida, pakar ubi kayu IPB itu membuat alternatif tepung terigu, yaitu melalui tepung mocaf yang diberikan nama "Ka.Ta.Mo". Ia menjelaskan bahwa tepung mocaf adalah tepung yang dikreasikannya dari produk lokal, yaitu tepung dari ubi kayu yang diproses menggunakan prinsip modifikasi sel ubi kayu dengan cara fermentasi.

Proses pembuatan tepung mocaf, katanya, adalah pengupasan, pencucian, pemotongan, penggaraman, fermentasi, pengeringan dan yang terakhir barulah diproses menjadi tepung. Fermentasi yang dilakukan dalam pembuatan tepung mocaf, yakni dengan cara merendam ubi kayu pada air yang telah dicampur mikroba.

Ia menjelaskan, tepung mocaf memiliki berbagai keunggulan, antara lain kandungan serat terlarut lebih tinggi, serta kandungan kalsium yang juga lebih tinggi dan tidak menyebabkan kembung. Mengenai harganya, kata dia, cukup terjangkau, yakni tepung mocaf per kilogramnya adalah Rp20 ribu.

Ia menjelaskan bahwa tepung mocaf bisa dimanfaatkan siapa saja, mulai dari orang umum, orang dengan gangguan pencernaan, orang dengan gangguan perkembangan, orang yang menderita diabetes, serta orang yang sedang mengendalikan obesitas.

Karena itu, dia ingin mengangkat ubi kayu sebagai bahan pangan unggul masyarakat dan mampu menyediakan produk yang unggul dan berkualitas untuk konsumen. Terlebih, kata dia, tingginya konsumsi tepung terigu di Indonesia merupakan masalah yang membutuhkan kebijakan yang tepat.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), volume impor komoditas gandum sebagai bahan dasar pembuatan tepung terigu pada semester pertama 2018 mengalami kenaikan 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 5,97 juta ton. Naiknya konsumsi tepung terigu masyarakat juga dibarengi dengan peningkatan konsumsi gandum di sektor pakan ternak.

Sementara itu, Indonesia dengan seluruh potensi kekayaan alam yang melimpah ruah perlu untuk dimanfaatkan, salah satunya adalah ubi kayu. Ubi kayu merupakan komoditas pertanian yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku produk pangan, pakan, maupun bahan baku industri.

"Akan tetapi komoditas ini kurang mendapat perhatian yang serius dalam pengembangannya," kata Nurul.


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar