Yamaha NMax

Bogor Pisan: Menelisik Sejarah Tentara Peta di Bogor

  Kamis, 21 Februari 2019   Husnul Khatimah
Museum dan Monumen Peta di Jalan Jenderal Sudirman, Bogor Tengah, Kota Bogor. (Husnul Khatimah/ayobogor.com)

BOGOR TENGAH, AYOBOGOR.COM -- Kota Bogor memiliki peranan yang sangat penting terhadap terbentuknya tentara Pembela Tanah Air (Peta). Di kota hujan inilah tentara Peta dilahirkan dan mendapatkan pendidikan militer.

Kepala Museum dan Monumen Peta, Kapten Infanteri Hendra Firdaus, mengatakan Bogor dijuluki sebagai Kota Pembela Tanah Air karena peristiwa lahirnya tentara Peta itu.

"Di sinilah tempat di mana lahirnya atau embrio tentara sukarela Pembela Tanah air yang memang saat itu dibentuk pada masa penjajahan Jepang pada tanggal 3 Oktober 1943," ujar Firdaus, saat ditemui di Museum dan Monumen Peta, Jalan Jenderal Sudirman, Bogor Tengah, Kota Bogor, Kamis (21/2/2019).

Dia menjelaskan, museum ini dahulu pernah dijadikan tempat pelatihan pemuda-pemuda tanah air yang bergabung sebagai tentara Peta. "Di sinilah tempat awal didiknya tentara Pembela Tanah Air, di museum inilah yang menjadi aktualisasi dididiknya para pemuda dari Jawa, Madura, dan Bali yang bergabung menjadi satu dalam wadah Peta dan Peta ini adalah embrio atau cikal bakal awal mula terbentuknya organisasi Tentara Nasional Indonesia," kata Firdaus.

Ia menuturkan, Bogor dipilih sebagai lokasi latihan tentara Peta karena topografi wilayahnya yang dikelilingi pegunungan. Banyaknya hutan juga membuat Bogor dianggap cocok untuk dijadikan tempat latihan militer.

Menurutnya, Museum Peta yang menjadi pusat latihan tentara Peta pada awalnya merupakan markas kompi-kompi pengawal gubernur Hindia Belanda yang telah berbentuk seperti tempat latihan militer. "Jadi dari kontruksi bangunan sudah siap sebab awalnya ini basis tentara Belanda dan kemudian ditambah kontur alamnya di Bogor cocok untuk latihan maka dijadikan ini basisnya tentara Peta," papar Firdaus.

Dalam bangunan itu, sebanyak 1609 pemuda dari sejumlah wilayah di seluruh penjuru tanah air ditatar dengan pendidikan militer oleh tentara Jepang selama tiga hingga empat bulan lamanya. "Pendidikan yang mereka terima itu seperti pelatihan kedisplinan, bela diri, pengetahuan senjata, dan taktik sesuai dengan jabatan mereka termasuk juga cara memperbaiki peralatan perang," ungkapnya.

Sebagian lulusan pendidikan militer Peta ini kemudian mendapatkan jabatan Daidanco, setingkat letnan kolonel atau komandan batalyon. Beberapa lainnya mendapat jabatan Cudanco, setingkat kapten atau komandan kompi, dan ada juga yang mendapat jabatan Sudanco, setingkat letnan dua atau komandan pleton.

"Banyak tokoh lulusan Peta yang kiprahnya memang besar terhadap bangsa ini mereka adalah Jenderal Soedirman, Soeharto, Ahmad Yani, Wirahadikusumah, dan sepuluh kepala staf angkatan darat juga berasal dari tentara peta," kata dia.  

Setelah lulus, para perwira Peta tersebut dikembalikan ke daerah asal mereka di Jawa, Bali, dan Madura. Kemudian di daerah asalnya, masing-masing mereka membentuk prajurit-prajurit baru setingkat Bintara.

"Setelah mereka berkiprah di daerah asal masing-masing tidak pernah ada lagi pendidikan Peta, hingga sampai pada tahun 1945 Peta akhirnya dibubarkan oleh Jepang hingga akhirnya terbentuklah TKR, BKR berevolusi menjadi TRI dan kemudian TNI, ABRI dan kini balik kembali ke TNI," tambah Firdaus.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar