Yamaha

Sumur Tujuh yang Nyaris Hilang Merupakan Tempat Mandi Ratu Kerajaan Pajajaran

  Jumat, 14 Desember 2018   Husnul Khatimah
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor, Shahlan Rasyidi. (ayobogor.com/Husnul Khatimah)

BOGOR SELATANAYOBOGOR.COM--Situs sumur tujuh yang berada di Jalan Lawanggintung, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor saat ini menjadi perbincangan masyarakat. Situs tersebut nyaris hilang karena adanya pembangunan proyek di kawasan situs.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor, Shahlan Rasyidi menjelaskan situs sumur tujuh merupakan peninggalan kerajaan Pajajaran.

Menurut Sahlan dulunya sumur tersebut berbentuk tujuh mata air yang sering digunakan oleh para ratu kerajaan Pajajaran sebagai tempat mandi.

"Di lokasi sumur tujuh itu dulunya tempat mandinya para ratu terutama istri Sri Baduga Maha Raja Prabu Siliwangi. Kemudian ada juga tempat semedi, itu berdasarkan cerita para budayawan," ujar Shahlan kepada ayobogor.com, Kamis (13/12).

Ia menuturkan, lokasi itu juga sering digunakan untuk mengambil air minum, karena dianggap sebagai air keramat peninggalan masa lalu yang digunakan para leluhur.

"Jadi, tempat ini sangat dihormati oleh masyarakat sekitar atau pun pendatang," tuturnya.

Selain digunakan air minum, lanjut Shahlan, dulunya di tempat tersebut kerap digunakan oleh masyarakat sekitar untuk Ngabungbang atau mandi bareng setiap tanggal 13 atau 14.

"Kalau kata orang Sunda itu kan setiap tanggal 13 dan 14 itu sering ngabungbang artinya mandi bareng bersama-sama kerabat kalau saya dulu di sungai dan kalau disini di mata air karena mata airnya keramat," ucap Sahlan.

Ia juga menyebutkan, bahwa lokasi di sekitar Batutulis, Lawanggingtung, dan Cipaku ini memang banyak peninggalan kerajaan pajajaran. Hal itu terbukti dengan banyaknya penemuan artepak bersejarah.

"Ditempat ini banyak situs peninggalan, berdasarkan penilitian saya, dibelakang makam Mbah Dalem ada artepak di abad 15 sampai 19. Jadi ini harus betul-betul kita jaga, kita rawat dan lestarikan," ujarnya.

Terkait adanya pembangunan di area Sumur Tujuh, Shahlan mengaku kaget saat melihat ada beko (alat berat) sedang beroperasi di lokasi tersebut.

"Waktu saya lewat disana kaget liat ada beko disana dan berpikir apakah ada ijin (pembangunan) gak? karena ada Beko disitu, ini kenapa dirusak. Ini cagar budaya, herritage yang harus kita jaga tetap kita hormati harus kita lestarikan kita jaga keberadaannya," ujar Sahlan.

Akibat adanya aktivitas pembangunan di lokasi tersebut, Pemerintah Kota Bogor, sambung Sahlan, kemudian menemui pemilik lahan untuk mencari tahu legalitas pembangunan. Namun kemudian pemilik lahan mengaku bahwa di lokasi tersebut tidak ada sumur tujuh.

"Pemilik lahan kita sudah ngobrol langsung dan dia sendiri mengaku tidak ada sumur tujuh, mungkin dia tidak tahu, lalu saya bilang ada sumur tujuh disana yaitu tujuh mata air yang sering digunakan oleh ratu Pajajaran sehingga ini menandakan harus dilestarikan," ucap Sahlan.

Area Sumur tujuh sendiri telah dibeli oleh pengembang dari pemilik lahan. Berdasarkan keterangan pemilik lahan pengembang hanya bermaksud untuk membangun turap bukan membangun sebuah gedung atau bangunan lainnya.

Meskipun ada pembangunan turap, lanjut Sahlan, sumur tujuh masih ada dan sumur yang dulunya berbentuk mata air diperbaiki dengan dibangun Hong oleh pemilik lahan.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar