Obrolan Singkat Bersama Kak Bonchie Si Pendongeng
Oleh Hengky Sulaksono, pada Nov 25, 2017 | 16:49 WIB
Obrolan Singkat Bersama Kak Bonchie Si Pendongeng
Bonchie saat mendongeng dalam salah satu panggungnya. (Instagram @bonchieyoska)

BOGOR, AYOBOGOR.COM -- Perjumpaan Bonchie dengan dunia dongeng terjadi tanpa direncanakan. Dongeng pertamanya ia bawakan saat menjadi sukarelawan salah satu taman baca anak-anak di Bogor. Bonchie kebagian tugas membacakan buku bagi anak-anak sebagai salah satu kegiatan rumah baca.

Lama-lama, bakat berkisahnya makin terasah dan pelan-pelan ia jatuh cinta pada dunia dongeng yang ia akrabi. Dongeng menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Bonchie. Ia mantap melangkahkan kaki-kaki mungilnya di dunia khayal.

Tak cuma kakinya, postur pendongeng bernama asli Suci Yoskarina ini juga terbilang kecil. Usianya yang menginjak kepala tiga tak terpancar. Gayanya yang edgy, serta pembawaan Bonchie yang asyik membuat kesan kepala tiganya sirna.

Saat dijumpai awal November lalu, Bonchie mengenakan kacamata oval vintage dan bowler hat ala Charlie Chaplin, dua pernik andalan yang membuat sosoknya lebih mudah diingat. Impresi bahwa dia merupakan seoarang pencerita yang handal langsung muncul saat obrolan berjalan. Gestur, mimik, dan nada bicaranya yang teratur menjadi pencair suasana.

Kak Bonchie, begitu anak-anak kerap menyapa, merupakan salah satu begawan pendongeng di Bogor, bahkan tanah air. Di tahun 2014, ia mendirikan Komunitas Dongeng Kota Hujan yang menjadi wadah perkumpulan para pendongeng Bogor. Ia ikut berhimpun dalam komunitas Ayo Dongeng yang menjadi salah satu tempat bernaung para pendongegeng di tanah air.

Kepada AyoBogor, ia membagikan kisah perjalanan bergelut di dunia dongeng yang telah merentang selama bertahun-tahun. Berikut petikan wawancaranya:

 

Bagaimana awal mula masuk ke dunia donegeng?

Sebenernya dari kecil udah sering terlibat di pentas, entah itu drama, teater, puisi. Tapi bergelut di dunia dongeng ini awalnya dari 2010. Aku jadi salah satu relawan taman baca masyarakat, terus karena banyak anak-anak yang berkunjung, kan, enggak mungkin dicuekin. Salah satu kegiatan paling mudah, selain krafting, adalah membacakan buku buat anak-anak. Terus akhirnya mulai sering terlibat. Dari situ keterusan, sampai kemudian tahun 2012 itu bener-bener setiap bulan udah selalu ada jadwal untuk dongeng.

Kapan pertama kali benar-benar mendongeng?

Pertama kali diajak mendongeng itu di Rumah Sakit Darmais di Jakarta, buat anak-anak kanker. Waktu itu dongeng bareng Pak Aryo (pendiri Forum Dongeng Nasional, Mochamad Aryo Zidni). Mulai dari situ, keterusan, jadi sering dongeng. Hingga akhirnya tahun 2012 itu ditarik sama salah satu taman hiburan di Bogor untuk mengisi salah satu program acaranya. Sampai sekarang, deh!

Sudah ada basic?

Aku sempet teater juga pas SMA. Aku juga punya grup band namanya Bonchie and Her Little Trees. Diajak pertama kali sama Pak Aryo karena dia tahu kalau aku suka deket sama anak-anak kecil dan nyanyi. Diajak kolaborasi mendongeng sambil bernyanyi. Waktu di Darmais itu akhirnya mendongeng sambil bernyanyi.

Penyampaiannya beda-beda?

Jadi sebelum tampil aku lihat dulu anak anaknya, audiensnya usia berapa, kira-kira cocok enggak kalau aku bawain cerita ini. Kira-kira pembawaan ceritanya gimana. Jadi kalau mau mendongeng di depan khalayak umum, enggak bisa kita cuma siapin satu cerita.

Pernah suatu kali aku disuruh mendongeng, menyampaikan pesan corporate yang di sana aku enggak bisa menyampaikan pesannya secara langsung. Nyampein peran dan fungsi Bank Indonesia sama anak TK. Kan ceritanya juga harus disesuaikan. Beda halnya kalau kita berbicara kepada ibu-bapak, pedagang, atau masyarakat umum. Ya udah akhirnya kita ajak belok dulu, kita ajak petualangan dulu, Pesan baru nanti disampaikan.

Kalau ke remaja pendekatannya beda lagi. Kita harus jadi temen mereka. ‘Hey, lo sukanya apa?’ Harus kayak gitu-gitu dulu. Harus tahu dulu. Deket dulu. Terus ke opa-oma di Panti Jompo mereka butuh perhatian, kita perhatiin dulu. Gestur, mimik, terus juga suara, itu harus bisa diatur sesuai dengan siapa yang akan kita dongengin.

Butuh waktu berapa lama sampai bisa terbiasa menjadi pendongeng?

Lumayan lama, sih. Dari 2010 sampai 2012 aku baru terbiasa. Sekarang aku selain mendongeng juga suka diminta buat workshop. Aku baru berani menyampaikan, berbagi tentang berdongeng dalam workshop itu mulai tahun 2015. Selebihnya cuma ngobrol-ngobrol biasa aja. Karena kalau aku, sih, kalau mau menyampaikan sesuatu yang ilmunya belum paham, aku enggak ngerti, aku enggak mau.

Sosok yang mempengaruhi?

Pertama kali aku jatuh cinta bener-bener (dengan dunia dongeng) karena waktu itu aku sempet dampingin Pak Raden, Drs. Suyadi almarhum. Waktu itu dia sempet ke Bogor, terus ngajak, ‘ayo bapak mau dongeng, temenin yuk’. Walaupun enggak ikut mendongeng, tapi dari situ mulai sharing. Terus dapet cerita cerita yang ajaib-ajaib juga dari dia. Akhirnya terinspirasi dan akhirnya berkesimpulan bahwa kita bisa melakukan sesuatu lewat dongeng.

Terus Kak Aryo juga, karena dia bener-bener yang dari awal nyemplungin aku ke dunia dongeng. Yang tadinya cuma tau bacain buku, akhirnya dia yang ngegeret-geret aku mendongeng.

Susah dan senangnya menjadi pendongeng?

Banyak senengnya sih. Kalau susah tantangannya paling kalau lagi enggak mood, atau ada masalah, kita tetep harus perform dengan ceria di depan anak-anak.

Sudah ke mana saja?

Aku sih ya Jabodetabek tentunya, Jombang, Banyumas, Lombok, Poso, Surabaya.

Ada pengalaman berkesan?

Semua panggung buat aku berkesan. Karena ngeliat binar mata anak-anak, itu udah bayaran paling mahal. Jadi ya setiap panggung sangat berkesan buat aku. Cuma memang pengalaman di setiap daerah itu akan berbeda.

Pernah ngalamin momen kikuk?

Pernah, awal-awal. Karena pengalaman juga belum banyak ya udah nikmatin aja dulu. Sampe lupa ceritanya apa. Tapi anak-anak ini excited. Ya, udah. Sambil nginget-ginget sebenernya. Cuma, ya, itu tadi, nikmatin aja.

Pencapaian yang ingin diraih?

Pencapaian aku, sih, lebih umum, ya. Aku senang mendongeng. Aku pengen semua orang tua, kakak-kakak, guru-guru, ayo kita mendongeng buat semua, buat anak-anak. Sebenernya niatnya sih ingin berbagi cerita kepada anak-anak. Memberikan hiburan yang menyenangkan. Kita juga bisa kasih sesuatu masukan tanpa kita harus rewel.

 

Foto-foto : Instagram @bonshieyoska

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha Lexi