Ke Jonggol Tercinta, di Curug Ku Tiba
Oleh Hengky Sulaksono, pada Aug 18, 2017 | 16:53 WIB
Ke Jonggol Tercinta, di Curug Ku Tiba
Curug Ciherang

BOGOR, AYOBOGOR.COM--Jonggol, sebuah kecamatan di Kabupaten Bogor, sempat menjadi fenomenal berkat sebuah tayangan televisi swasta. Keberadaannya di serial layar kotak ini sungguh paradoks, ia seolah nyata sekaligus imajiner. Keberadaannya yang astral itu hanya terjamah melalui untaian kata.

Tapi, kenyataannya, Jonggol memang benar-benar ada. Ia menyimpan sejuta kisah dari berbagai sisi, termasuk soal pesona alam khas pegunungan. Pesona alam Jonggol benar-benar nyata, sepadan dengan imaji keindahan alam khas Nusantara. Keberadaan Jonggol yang selama ini lebih sering terhalang tabir, bakal membuat mata siapapun terbelalak saat benar-benar menatapnya.

Kecamatan yang berada di bagian Timur Laut Bogor ini memiliki luas sekira 97 kilometer persegi. Jonggol terletak 60 kilometer dari pusat Kota Bogor dan memiliki bentang alam khas pegunungan yang hijau dan cantik. Nuansa asri ini memang lekat dengan kawasan Bogor Timur, tak terkecuali Jonggol, yang berada di dataran tinggi.

Pesona Jonggol kian berpencar dengan berbagai lokasi pakansi alam yang ada di dalamnya. Tak megah atau mewah memang, tapi lebih dari cukup untuk memanjakan diri selepas lelah dengan rutinitas kerja dan hiruk-pikuk di perkotaan. Ya, Jonggol punya ikon wisata menawan yang menjadi andalan dan diburu turis-turis luar daerah maupun lokal.

Jika hendak menikmati wisata alam di sini, wilayah Jonggol bagian selatan amat direkomendasikan. Di sebelah selatan Kecamatan Jonggol, terdapat sebuah lingkar kawasan wisata yang dihuni curug-curug nan permai. Terdapat dua curug utama yang keberadaannya sudah popular, yakni Curug Ciherang dan Curug Cipamingkis, Di luar itu terdapat banyak curug lainnya yang bisa dijadikan pilihan.

Beberapa warga yang dijumpai di sekitaran lereng pegunungan Jalan Puncak Dua mengatakan ada banyak curug yang berada di sana. Untuk disebut, curug-curug tersebut yakni Curug Arca, Cibeet, Tonjong, Cibereum, dan masih banyak lainnya. Salah seorang Staf pengelola Curug Ciherang, Mulyadi, bahkan mengklaim jika terdapat setidaknya sembilan curug di areal sekitaran Curug Ciherang.

Keseluruhan curug ini tersebar di beberapa titik dalam radius sepuluh kilometer. Terletak di pinggiran kawasan sepanjang Jalan Puncak Dua, akses menuju curug-curug ini gampang-gampang susah dijangkau. Gampang karena beberapa lokasi gerbang curug bisa dijajal menggunakan mobil, terlebih sepeda motor. Susah karena akses jalan kurang mulus, di luar jangkauan operator ponsel, dan minim papan informasi soal lokasi pasti curug.

“Persoalan utamanya akses jalan. Investor sudah banyak yang melirik curug-curug di sini. Ini potensi wisata alamnya besar. Tidak hanya curug. Tapi memang curugnya yang jadi andalan,” kata Mulyadi yang merupakan staf CV Bangun Persada, pengelola curug milik Perum Perhutani ini, Rabu (16/8/2017).  

Kondisi akses jalan ini, kata Mulyadi, menjadi penyebab utama yang membuat popularitas curug-curug di lereng pegunungan ini tak kunjung terkatrol. Ia bahkan berani bertaruh jika wisata curug di wilayah yang disebutnya sebagai Bukit Batu ini bakal tak kalah mentereng dengan pakansi alam kebun teh dan resort-resort yang identik dengan kawasan Puncak Pass.

“Sekarang saja jumlah wisatawan yang datang ke sini meningkat beberapa kali lipat. Dulu, kan, cakupannya wisatawan lokal saja, Jonggol, Cileungsi. Kalau dari luarnya paling Bekasi dan Jakarta. Sekarang cakupannya Tangerang, Serang, Karawang. Tapi masih didominasi Jakarta dan Bekasi,” katanya.

Catatan Mulyadi, rataan pengunjung akhir pekan mencapai sepuluh kali lipat. Sebelumnya, Curug Ciherang hanya sanggup mendatangkan 100-200 wisatawan pada libur akhir pekan, sementara saat ini, jumlahnya bisa mencapai lebih dari 1.000 orang. Melonjaknya arus pelancongan terjadi sejak dua tahun silam, tepatnya sejak beberapa fasilitas penunjang wisata, terutama rumah pohon, ditambahkan.

Tak hanya itu, Curug Ciherang juga dilengkapi cottage dan camping area yang ramah bagi wisatawan jarak jauh. Saat ini, pengelola juga tengah membangun restoran berbentuk kapal yang bakal memanjakan para tamu. Kelengkapan fasilitas dan statistik kunjungan ini jadi pertanda baik untuk pengembangan wisata di kawasan Puncak Dua ini, terlebih jika akses jalan diperbaiki.

Dari semua curug yang ada, baru Curug Ciherang dan Curug Cipamingkis yang sudah populer. Kedua curug ini tenar lantaran dikelola secara profesional. Perkara fasilitas dan publisitas curug betul-betul diperhatikan sehingga curug sanggup menggaet turis untuk berdatangan.

Sedangkan curug lainnya praktis belum banyak dikunjungi pelancong. Kendati masih kurang dikenal, bukan berarti pesona air terjun yang ada tak menarik sama sekali. Alih-alih demikian, kurangnya publisitas ini tak melulu berarti negatif sebetulnya. Malahan, hal ini bisa menjadi poin plus lantaran curug ini berstatus ‘agak perawan’. Tentu saja, kondisi ini lebih menawan bagi mereka yang gemar bereksplorasi. Mengunjungi curug bak menemukan harta karun yang punya nilai lebih.

Selain Curug, terdapat pula lokasi pakansi tirta lainnya yang masih berada di areal lingkaran curug. Tempat tersebut yakni Situ Rawa Gede, sebuah danau asri yang menyuguhkan pesona alam dengan hamparan pepohonan di sekitarnya. Keberadaan situ ini makin menambah ciamik daya pikat pelancongan di sana.

Disebut Jonggol, Padahal Bukan

Terdapat sekelumit kisah unik di balik pesona alam lingkar curug ini. Orang-orang lebih sering membenamkan kesadaran bahwa curug-curug ini berada di Jonggol. Nyatanya, tak satupun dari semua curug ini yang berada di Jonggol.

Secara administratif, semua curug, termasuk Situ Rawa Gede berada di wilayah Kecamatan Sukamakmur, kendati secara geografis memang berada di bagian selatan Jonggol. Lantas apa pasal sehingga lokasi pakansi ini selalu identik dengan Jonggol? Salah satu penjelasan paling masuk akal terkait fenomena ini ialah status Sukamakmur yang merupakan wilayah kecamatan pemekaran dari Jonggol.

Satu setengah dekade lalu, Sukasari merupakan salah satu bagian dari Kecamatan Jonggol. Namun terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 48 tahun 1999, tentang pembentukan 14 kecamatan baru di berbagai kabupaten/kota, membuat Sukasari berubah status dan memisahkan diri dari Jonggol.

Curug Ciherang dan Cipamingkis berada di Desa Wargajaya, yang masuk kedalam Kecamatan Sukamakmur. “Kalau Curug Ciherang dan Curug Cipamingkis itu berada di wilayah Kecamatan Sukamakmur,” kata Camat Jonggol, Beben, saat dikonfirmasi via pesan singkat WhatsApp.

Beben menduga masa lalu Sukamakmur yang merupakan salah satu desa di Kecamatan Jonggol menjadi penyebab masih eksisnya nama Jonggol di Sukamakmur. Kendati begitu, Jonggol saat ini bukan tanpa curug sama sekali. Beben menyebutkan beberapa curug yang ada di Jonggol, di antaranya Curug Ciseupang din Desa Cibodas, Curug Cisedong di Desa Sukasirna, serta Curug Cipandan di Desa Sukamaju.

Perubahan status ini tak cukup kuat merobohkan nama besar Jonggol dari wilayah cakupan masa lalunya. Masyarakat yang gagal move on—entah dengan alasan apa—tetap membawa-bawa nama Jonggol. Disebut Jonggol, padahal bukan.

Pengelola Situ Rawa Gede, Usup Supriyadi mengatakan tak jarang pengunjung salah mengidentifikasi lokasi objek wisata yang dikelolanya. Wisatawan, terutama yang berasal dari luar kota, kerap mengira situ di Desa Sirnajaya ini berada di Jonggol..

“Memang betul masih banyak orang-orang taunya ini di Jonggol, padahal mah bukan,” katanya. Ia juga tak menyangkal jika nama Jonggol kadung mengakar di ingatan pengunjung lantaran kawasan ini dulunya memang masuk ke dalam wilayah Jonggol.

Selain curug dan situ, ada lagi satu objek wista popular di Sukasari yang juga kerap dikira berada di Jonggol. Namanya Gunung Batu, yang terletak di Desa Sukaharja. Objek yang menawarkan view pegunungan nan ciamik dan Instagramable ini  bahkan kerap dibubuhi keterangan ‘Jonggol’ di belakangnya. Sehingga ia disebut Gunung Batu Jonggol. Padahal, sekali lagi, bukan.

Perlu Pembenahan

Pemerintah Kabupaten Bogor mengakui jika wisata curug ini merupakan salah satu ikon pelancongan Kabupaten Bogor. Sektor pariwisata ini disebut-sebut punya kontribusi besar bagi arus pelancongan menuju Bumi Tegar Beriman. Dibanding jenis wisata lain, wisata alam curug memang menjadi primadona.

“Memang wisata curug ini jadi salah satu andalan di Kabupaten Bogor. Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bogor, Rahmat Surjana. Tapi, kata Rahmat, curug-curug yang ada di celah perbukitan ini bukanlah aset pemerintah, melainkan milik Perhutani.

Pemerintah hanya melakukan kerja sama dalam pengelolaan wisata curug ini. Kerja sama yang ditempuh terkait aturan main dan kewenangan pengelolaan yang bisa dilakukan pemerintah daerah, serta mekanisme bagi hasilnya objek wisata.  “Pemerintah menjadi sebagai pembina supaya turut aturan, standar yang ditetapkan,” katanya.

Kendati demikian, ia tak memungkiri jika keberadaan curug-curug di Kabupaten Bogor punya potensi besar untuk dikembangkan sehingga menjadi ikon wisata yang menasional. Pasalnya, setiapa wilayah di Kabupaten Bogor punya curug. Jumlah perkiraan sembilan curug yang ada di sekitaran Bukit Batu, juga terdapat di Kecamatan Pamijahan yang berada di Bogor bagian barat. Persoalannya, ucap Rahmat, Disbudpar tak bisa berbuat banyak lantaran bukan pemilik curug-curug tersebut.

“Potensinya besar. Karena di setiap kecamatan ada curug. Bisa (menasional) ke depan kalau sudah dikembangkan. Kalau sudah siap kunjung. Di kita, kan, masih belum siap. Fasilitas dan infrastrukturnya tidak begitu siap. Manajemen pengelolaannya juga. Kita tidak bisa memaksimalkan karena kita bukan pemiliknya,” kata dia.

Jika sudah begini, bukan tak mungkin Jonggol juga bakal kecipratan tenar. Popularitasnya bakal makin terkatrol lantaran orang-orang yang gagal move on akan tetap mengira curug-curug di Sukamakmur berada di Jonggol. Padahal, bukan. Wakwaw!

Editor : Adi Ginanjar Maulana
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha Lexi